Created by irhamia
ALIRAN FILSAFAT IDEALISME DAN
MATERIALISME
DALAM PENDIDIKAN
A.
IDEALISME
1.
Latar Belakang (Sejarah)
Aliran Idealisme
Aliran ini
merupakan aliran yang sangat penting dalam perkembangan sejarah pemikiran
manusia. Mula-mula dalam filsafat barat kita temui dalam bentuk ajaran yang
murni dari Plato. Yang menyatakan bahwa alam, cita-cita itu adalah yang
merupakan kenyataan sebenarnya. Adapun alam nyata yang menempati ruang ini
hanya berupa bayangan saja dari alam idea.
Aristoteles
memberikan sifat kerohanian dengan ajarannya yang menggambarkan alam ide
sebagai suatu tenaga yang berada dalam benda-benda dan menjalankan pengaruhnya
dari benda itu. Sebenarnya dapat dikatakan bahwa paham idealisme sepanjang masa
tidak pernah hilang sama sekali. Di masa abad pertengahan malahan satu-satunya
pendapat yang disepakati oleh semua ahli pikir adalah dasar idealisme ini.
Pada jaman
Aufklarung para filosof yang mengakui aliran serba dua (dualisme) seperti
Descartes dan Spinoza yang mengenal dua pokok yang bersifat kerohanian dan
kebendaan, maupun keduanya mengakui bahwa unsur kerohanian lebih penting
daripada kebendaan. Selain itu, segenap kaum agama sekaligus dapat digolongkan
kepada penganut idealisme yang paling setia sepanjang masa, walaupun mereka tidak
memiliki dalil-dalil filsafat yang mendalam. Puncak jaman idealisme pada masa
abad ke-18 dan 19 ketika periode idealisme. Dan Jerman yang berpengaruh besar
di Eropa.
Secara
historis, idealisme diformulasikan dengan jelas pada abad IV sebelum masehi
oleh Plato (427-347 SM). Athena, selama Plato hidup, adalah kota yang berada
dalam kondisi transisi (peralihan). Peperangan bangsa Persia telah mendorong
Athena memasuki era baru. Seiring dengan adanya peperangan-peperangan tersebut,
perdagangan dan perniagaan tumbuh subur dan orang-orang asing tinggal
diberbagai penginapan Athena dalam jumlah besar untuk meraih keuntungan
mendapatkan kekayaan yang melimpah. Dengan adanya hal itu, muncul berbagai
gagasan-gagasan baru ke dalam lini budaya bangsa Athena. Gagasan-gagasan baru
tersebut dapat mengarahkan warga Athena untuk mengkritisi pengetahuan &
nilai-nilai tradisional. Saat itu pula muncul kelompok baru dari kalangan
pengajar (para Shopis). Ajarannya memfokuskan pada individualisme,
karena mereka berupaya menyiapkan warga untuk menghadapi peluang baru
terbentuknya masyarakat niaga. Penekanannya terletak pada individualisme, hal
itu disebabkan karena adanya pergeseran dari budaya komunal masa lalu menuju
relativisme dalam bidang kepercayaan dan nilai.
Aliran
filsafat Plato dapat dilihat sebagai suatu reaksi terhadap kondisi perubahan
terus-menerus yang telah meruntuhkan budaya Athena lama. Ia merumuskan
kebenaran sebagai sesuatu yang sempurna dan abadi (eternal).
Dan sudah terbukti, bahwa dunia eksistensi keseharian senantiasa mengalami
perubahan. Dengan demikian, kebenaran tidak bisa ditemukan dalam dunia materi
yang tidak sempurna dan berubah. Plato percaya bahwa disana
terdapat kebenaran yang universal dan dapat disetujui oleh semua orang.
Contohnya dapat ditemukan pada matematika, bahwa 5 + 7 = 12 adalah selalu benar
(merupakan kebenaran apriori), contoh tersebut sekarang benar, dan bahkan di
waktu yang akan datang pasti akan tetap benar.
Idealisme
dengan penekanannya pada kebenaran yang tidak berubah, berpengaruh pada
pemikiran kefilsafatan. Selain itu, idealisme ditumbuh kembangkan dalam dunia
pemikiran modern. Tokoh-tokohnya antara lain: Rene Descartes (1596-1650),
George Berkeley (1685-1753), Immanuel Kant (1724-1804) dan George W. F. Hegel
(1770-1831). Seorang idealis dalam pemikiran pendidikan yang paling berpengaruh
di Amerika adalah William T. Harris (1835-1909) yang menggagas Journal of
Speculative Philosophy. Ada dua penganut idealis abad XX yang telah
berjuang menerapkan idealisme dalam bidang pendidikan modern, antara lain: J.
Donald Butler dan Herman H. Horne. Sepanjang sejarah, idealisme juga terkait
dengan agama, karena keduanya sama-sama memfokuskan pada aspek spiritual dan
keduniawian lain dari realitas.
2.
Pengertian Idealisme
Secara epistemologi, istilah Idealisme berasal dari kata idea yang artinya adalah sesuatu yang
hadir dalam jiwa (Plato), jadi pandangan ini lebih menekankan hal-hal bersifat
ide, dan merendahkan hal-hal yang materi dan fisik. Realitas sendiri dijelaskan
dengan gejala-gejala psikis, roh, pikiran, diri, pikiran mutlak, bukan
berkenaan dengan materi.
Idealisme merupakan salah satu aliran filsafat tradisional
yang paling tua. Aliran idealisme merupakan
suatu aliran ilmu filsafat yang mengagungkan jiwa. Menurutnya, cita adalah
gambaran asli yang semata-mata bersifat rohani dan jiwa terletak di antara
gambaran asli (cita) dengan bayangan dunia yang ditangkap oleh panca indera.
Pertemuan antara jiwa dan cita melahirkan suatu angan-angan yaitu dunia idea.
Aliran ini memandang serta menganggap bahwa yang nyata hanyalah idea. Idea
sendiri selalu tetap atau tidak mengalami perubahan serta penggeseran, yang
mengalami gerak tidak dikategorikan idea.
Keberadaan idea tidak tampak dalam wujud lahiriah, tetapi
gambaran yang asli hanya dapat dipotret oleh jiwa murni. Alam dalam pandangan
idealisme adalah gambaran dari dunia idea, sebab posisinya tidak menetap.
Sedangkan yang dimaksud dengan idea adalah hakikat murni dan asli.
Keberadaannya sangat absolut dan kesempurnaannya sangat mutlak, tidak bisa
dijangkau oleh material. Pada kenyataannya, idea digambarkan dengan dunia yang
tidak berbentuk demikian jiwa bertempat di dalam dunia yang tidak bertubuh yang
dikatakan dunia idea.
Inti yang terpenting dari ajaran ini adalah manusia
menganggap roh atau sukma lebih berharga dan lebih tinggi dibandingkan dengan
materi bagi kehidupan manusia. Roh itu pada dasarnya dianggap suatu hakikat
yang sebenarnya, sehingga benda atau materi disebut sebagai penjelmaan dari roh
atau sukma. Sedangkan, pokok utama yang diajukan oleh idealisme adalah jiwa
mempunyai kedudukan yang utama dalam alam semesta. Sebenarnya, idealisme tidak
mengingkari materi. Namun, materi adalah suatu gagasan yang tidak jelas dan
bukan hakikat.
3.
Tokoh-tokoh Idealisme
:
a.
Plato
(477 -347 Sb.M)
Menurutnya, cita adalah gambaran asli yang semata-mata
bersifat rohani dan jiwa terletak di antara gambaran asli dengan bayangan dunia
yang ditangkap oleh panca indra. Dan pada dasarnya sesuatu itu dapat
dipikirkan oleh akal, dan yang berkaitan juga dengan ide atau gagasan. Mengenai
kebenaran tertinggi, dengan doktrin yang dikenal dengan istilah ide, Plato
mengemukakan bahwa dunia ini tetap dan jenisnya satu, sedangkan ide tertinggi
adalah kebaikan.
Menurut Plato, kebaikan
merupakan hakikat tertinggi dalam mencari kebenaran. Tugas ide
adalah memimpin budi manusia dalam menjadi contoh bagi pengalaman. Siapa saja
yang telah mengetahui ide, manusia akan
mengetahui jalan yang pasti, sehingga dapat menggunakannya
sebagai alat untuk mengukur, mengklarifikasikan dan menilai segala sesuatu yang
dialami sehari-hari.
b.
Immanuel
Kant (1724 -1804)
Beliau menyebut filsafatnya idealis
transendental atau idealis kritis dimana paham ini menyatakan bahwa isi
pengalaman langsung yang kita peroleh tidak dianggap sebagai miliknya sendiri
melainkan ruang dan waktu adalah forum intuisi kita. Dengan demikian, ruang dan
waktu yang dimaksudkan adalah sesuatu yang dapat membantu kita (manusia) untuk
mengembangkan intuisi kita. Menurut Kant, pengetahuan yang mutlak sebenarnya memang
tidak akan ada bila seluruh pengetahuan datang melalui indera. Akan tetapi, bila
pengetahuan itu datang dari luar melalui akal murni, yang tidak bergantung pada
pengalaman. Dapat disimpulkan bahwa filsafat idealis transendental
menitik beratkan pada pemahaman tentang sesuatu itu datang dari akal murni dan
yang tidak bergantung pada sebuah pengalaman.
c.
Pascal
(1623-1662)
Kesimpulan dari pemikiran filsafat Pascal antara lain :
1)
Pengetahuan diperoleh melalaui dua
jalan, pertama menggunakan akal dan kedua menggunakan hati. Ketika akal
dengan semua perangkatnya tidak dapat lagi mencapai suatu aspek maka hati
lah yang akan berperan. Oleh karena itu, akal dan hati saling berhubungan satu
sama lain. Apabila salah satunya tidak berfungsi dengan baik, maka dalam
memperoleh suatu pengetahuan itu juga akan mengalami kendala.
2)
Manusia besar karena pikirannya, namun
ada hal yang tidak mampu dijangkau oleh pikiran
manusia yaitu pikiran manusia itu sendiri. Menurut Pascal manusia adalah
makhluk yang rumit dan kaya akan variasi serta mudah berubah. Untuk itu
matematika, pikiran dan logika tidak akan mampu dijadikan alat untuk memahami
manusia. Menurutnya alat-alat tersebut hanya mampu digunakan untuk memahami
hal-hal yang bersifat bebas kontradiksi, yaitu yang bersifat konsisten. Karena
ketidak mampuan filsafat dan ilmu-ilmu lain untuk memahami manusia, maka
satu-satunya jalan memahami manusia adalah dengan agama. Karena dengan agama,
manusia akan lebih mampu menjangkau pikirannya sendiri, yaitu dengan berusaha
mencari kebenaran, walaupun bersifat abstrak.
3)
Filsafat bisa melakukan apa saja, namun
hasilnya tidak akan pernah sempurna. Kesempurnaan itu terletak pada iman.
Sehebat apapun manusia berfikir ia tidak akan mendapatkan kepuasan karena
manusia mempunyai logika yang kemampuannya melebihi dari logika
itu sendiri. Dalam mencari Tuhan Pascal tidak menggunakan metafisika, karena
selain bukan termasuk geometri tapi juga metafisika tidak akan mampu. Maka
solusinya ialah mengembalikan persoalan keTuhanan pada jiwa. Filsafat bisa
menjangkau segala hal, tetapi tidak bisa secara sempurna. Karena setiap ilmu
itu pasti ada kekurangannya, tidak terkecuali filsafat.
d. J. G. Fichte (1762-1914 M.)
Beliau adalah
seorang filsuf jerman. Ia belajar teologi di Jena (1780-1788 M). Pada tahun
1810-1812 M, ia menjadi rektor Universitas Berlin. Filsafatnya
disebut “Wissenschaftslehre” (ajaran ilmu pengetahuan). Secara sederhana pemikiran Fichte:
manusia memandang objek benda-benda dengan inderanya. Dalam mengindra objek
tersebut, manusia berusaha mengetahui yang dihadapinya. Maka berjalanlah proses
intelektualnya untuk membentuk dan mengabstraksikan objek itu menjadi
pengertian seperti yang dipikirkannya.
Hal tersebut
bisa dicontohkan seperti, ketika kita melihat sebuah meja dengan mata kita,
maka secara tidak langsung akal (rasio) kita bisa menangkap bahwa bentuk meja
itu seperti yang kita lihat (berbentuk bulat, persegi panjang, dll). Dengan
adanya anggapan itulah akhirnya manusia bisa mewujudkan dalam bentuk yang
nyata.
e. F. W. S. Schelling (1775-1854 M.)
Schelling telah matang menjadi seorang filsuf disaat dia
masih amat muda. Pada tahun 1798 M, dalam usia 23 tahun, ia telah menjadi guru
besar di Universitas Jena. Dia adalah filsuf Idealis Jerman yang telah
meletakkan dasar-dasar pemikiran bagi perkembangan idealisme Hegel.
Inti dari filsafat Schelling: yang mutlak atau rasio mutlak adalah sebagai
identitas murni atau
indiferensi, dalam arti tidak mengenal perbedaan antara yang subyektif dengan
yang obyektif. Yang mutlak menjelmakan diri dalam 2 potensi yaitu yang nyata
(alam sebagai objek) dan ideal (gambaran alam yang subyektif dari subyek). Yang
mutlak sebagai identitas mutlak menjadi sumber roh (subyek) dan alam (obyek)
yang subyektif dan obyektif, yang sadar dan tidak sadar. Tetapi yang mutlak itu
sendiri bukanlah roh dan bukan pula alam, bukan yang obyektif dan bukan pula
yang subyektif, sebab yang mutlak adalah identitas mutlak atau indiferensi
mutlak.
Maksud dari
filsafat Schelling adalah, yang pasti dan bisa diterima akal adalah sebagai
identitas murni atau indiferensi, yaitu antara yang subjektif dan objektif sama atau
tidak ada perbedaan. Alam sebagai objek dan jiwa (roh atau ide) sebagai subjek,
keduanya saling berkaitan. Dengan demikian yang mutlak itu tidak bisa dikatakan
hanya alam saja atau jiwa saja, melainkan antara keduanya.
f. G. W. F. Hegel (1770-1031 M.)
Beliau belajar
teologi di Universitas Tubingen dan pada tahun 1791 memperoleh gelar Doktor.
Inti dari filsafat Hegel adalah konsep Geists (roh atau spirit), suatu
istilah yang diilhami oleh agamanya. Ia berusaha menghubungkan yang mutlak
dengan yang tidak mutlak. Yang mutlak itu roh atau jiwa, menjelma pada alam dan
dengan demikian sadarlah ia akan dirinya. Roh itu dalam intinya ide (berpikir).
4.
Implikasi Filsafat
Idealisme dalam Pendidikan
Aliran filsafat idealisme cukup banyak memperhatikan
masalah-masalah pendidikan, sehingga cukup berpengaruh terhadap pemikiran dan
praktik pendidikan. Idealisme sangat
concern tentang keberadaan sekolah. Menurut filsafat idealisme pendidikan
harus tetap terus eksis sebagai lembaga untuk proses pemasyarakatan manusia
dalam memenuhi kebutuhan spiritual dan tidak sekedar kebutuhan alam semesta.
Filsafat idealisme pada abad ke-19 secara khusus mengajarkan
tentang kebudayaan manusia dan lembaga kemanusiaan sebagai ekspresi realitas
spiritual. Bagi aliran idealisme, anak didik merupakan seorang pribadi
tersendiri, sebagai makhluk spiritual. Mereka yang menganut paham idealisme
senantiasa memperlihatkan bahwa apa yang mereka lakukan merupakan ekspresi dari
keyakinannya, sebagai pusat utama pengalaman pribadinya sebagai makhluk
spiritual.
Berbicara tentang implikasi filsafat idealisme dalam
pendidikan, menurut Uyoh Sadulloh dalam Pengantar Filsafat Pendidikan, mengemukakan
implikasinya sebagai berikut:
a. Pendidik
dan Peserta Didik
Guru yang menganut paham idealisme biasanya berkeyakinan
bahwa spiritual merupakan suatu kenyataan, mereka tidak melihat murid sebagai
apa adanya, tanpa adanya spiritual. Selain itu pula, Para pendidik yang idealis
lebih menyukai bentuk-bentuk kurikulum subject-matter,
yang menghubungkan ide-ide dengan konsep dan sebaliknya, konsep dengan ide-ide.
Guru dalam sistem pengajaran yang menganut aliran idealisme
berfungsi sebagai:
1) guru adalah personifikasi dari
kenyataan si anak didik;
2) guru harus seorang spesialis dalam
suatu ilmu pengetahuan daripada siswa;
3) Guru haruslah menguasai teknik
mengajar secara baik;
4) Guru haruslah menjadi pribadi
terbaik, sehingga disegani oleh para murid;
5) Guru menjadi teman dari para
muridnya;
6) Guru harus menjadi pribadi yang
mampu membangkitkan gairah murid untuk belajar;
7) Guru harus bisa menjadi idola para
siswa;
8) Guru harus rajin beribadah, sehingga
menjadi insan kamil yang bisa menjadi teladan para siswanya;
9) Guru harus menjadi pribadi yang
komunikatif;
10) Guru harus mampu mengapresiasi
terhadap subjek yang menjadi bahan ajar yang diajarkannya;
11) Tidak hanya murid, guru pun harus
ikut belajar sebagaimana para siswa belajar;
12) Guru harus merasa bahagia jika anak
muridnya berhasil;
13) Guru haruslah bersikap demokratis
dan mengembangkan demokrasi;
14) Guru harus mampu belajar, bagaimana
pun keadaannya. Selain itu, jika ditinjau dari kedudukan peserta didik, dalam
aliran idealisme siswa bebas mengembangkan kepribadian dan kemampuan dasarnya
atau bakatnya.
b. Tujuan
Pendidikan dan Kurikulum
Secara umum pendidikan idealisme merumuskan tujuan
pendidikan sebagai pencapaian manusia yang berkepribadian mulia dan memiliki
taraf kehidupan rohani yang lebih tinggi dan ideal. Sedangkan kurikulum yang digunakan
dalam pendidikan yang beraliran idealisme lebih memfokuskan pada isi yang
objektif. Pengalaman haruslah lebih banyak daripada pengajaran yang textbook, supaya pengetahuan dan
pengalamannya senantiasa aktual. Beberapa tokoh idealisme memandang bahwa
kurikulum itu hendaklah berpangkal pada landasan idiil dan organisasi yang
kuat. Semua yang ideal baik, yang berisi manifestasi dari intelek, emosi dan
kemauan, ini semua perlu menjadi sumber kurikulum.
c. Metode
Metode yang digunakan oleh aliran idealisme adalah metode
dialektik. Metode mengajar dalam pendidikan hendaknya mendorong siswa untuk
memperluas cakrawala mendorong berfikir reflektif, mendorong pilihan-pilihan
morak pribadi, memberikan keterampilan-keterampilan berfikir logis, memberikan
kesempatan menggunakan pengetahuan untuk masalah-masalah moral dan sosia,
miningkatkan minat terhadap isi mata pelajaran, dan mendorong siswa untuk
menerima nilai-nilai peradaban manusi
B.
MATERIALISME
1.
Sejarah Lahirnya
Aliran Filsafat Materialisme
Demokritos (460-360 SM), merupakan pelopor pandangan
materialisme klasik, yang disebut juga “atomisme”.
Demokritos besrta para pengikutnya beranggapan bahwa segala sesuatu terdiri
dari bagian-bagian kecil yang tidak dapat dibagi-bagi lagi (yang disebut atom).
Atom-atom merupakan bagian dari yang begitu kecil sehingga mata kita tidak
dapat melihatnya. Atom-atom itu bergerak, sehingga dengan demikian membentuk
realitas pada pancaindera kita.
Ludwig Feuerbach (1804-1872) mencanangkan suatu meta-fisika
materialistis, suatu etika yang humanistis, dan suatu epistemology yang
menjunjung tinggi pengenalan inderawi. Oleh karena itu, ia ingin mengganti
idealisme Hegel (guru Feuerbach) dengan materialisme. Jadi, menurut Feuerbach,
yang ada hanyalah materi, tidak mengenal alam spiritual. Kepercayaan terhadap
Tuhan hanyalah merupakan suatu proyeksi dari kegagalan atau ketidakpuasan
manusia mencapai cita-cita kebahagiaan dalam hidupnya. Dengan kegagalan
tersebut manusia memikirkan suatu wujud di luar yang dikhayalkan memiliki
kesempurnaan, yang merupakan sumber kebahagiaan manusia, suatu wujud yang
bahagia secara absolute. Oleh karena itu, Tuhan hanyalah merupakan hasil
khayalan manusia. Tuhan diciptakan oleh manusia itu sendiri, secara maya,
padahal wujudnya tidak ada.
2.
Pengertian materialisme
Kata "materialisme"
terdiri dari kata "materi" dan "isme"materi dapat dipahami
sebagai "bahan; benda; segala sesuatu yang
tampak"."Materialisme" adalah pandangan hidup yang mencari dasar
segala sesuatu yang termasuk kehidupan manusia di dalam alam kebendaan semata,
dengan mengesampingkan segala sesuatu yang mengatasi alam indra. Sementara itu,
orang-orang yang hidupnya berorientasi kepada materi disebut sebagai
"materialis". Orang-orang ini adalah para pengusung paham (ajaran)
materialisme atau juga orang yang mementingkan kebendaan semata
(harta,uang,dsb).
Materialisme adalah paham dalam filsafat
yang menyatakan bahwa hal yang dapat
dikatakan benar-benar ada adalah materi. Pada dasarnya semua hal terdiri atas
materi dan semua fenomena adalah hasil interaksi material. Materi adalah
satu-satunya substansi. Sebagai teori, materialisme termasuk paham ontologi
monistik. Akan tetapi, materialisme berbeda dengan teori ontologis yang
didasarkan pada dualism atau pluralism.Dalam memberikan penjelasan tunggal tentang realitas,
materialisme berseberangan dengan idealisme
3. Tokoh-tokoh filsafat materialisme adalah:
a. Thales
(625-545 SM) berpendapat bahwa unsur asal adalah air.
b.
Anaximandros (610-545 SM) berpendapat
bahwa unsur asal adalah apeiron, yaitu unsur yang tak terbatas.
c.
Anaximenes (585-528 SM) berpendapat
bahwa unsur asal adalah udara.
d.
Heraklitos (540-475 SM) berpendapat
bahwa unsur asal adalah api.
e.
Demokritus (460-360 SM) berpendapat
bahwa hakikat alam adalah atom-atom yang amat banyak dan halus. Atom-atom itulah
yang menjadi asal kejadian alam semesta.
4.
Konsep Dasar Filsafat
Materialisme
Materialisme berpandangan bahwa hakikat realisme adalah
materi, bukan rohani, bukan spiritual, atau supranatural. Filsafat materialisme
memandang bahwa materi lebih dahulu ada sedangkan ide atau pikiran timbul
setelah melihat materi. Dengan kata lain materialisme mengakui bahwa materi
menentukan ide, bukan ide menentukan materi. Contoh: karena meja atau kursi
secara objektif ada, maka orang berpikir tentang meja dan kursi. Bisakah
seseorang memikirkan meja atau kursi sebelum benda yang berbentuk meja dan
kursi belum atau tidak ada.
a. Ciri-ciri filsafat materialism
1) Segala yang ada (wujud) berasal dari
satu sumber yaitu materi
2) Tidak meyakini adanya alam ghaib
3) Menjadikan panca-indera sebagai
satu-satunya alat mencapai ilmu
4) Memposisikan ilmu sebagai pengganti
agama dalam peletakkan hokum
5) Menjadikan kecondongan dan tabiat
manusia sebagai akhlaq
b. Variasi aliran filsafat materialism
Aliran
materialisme memiliki dua variasi yaitu materialisme dialektik dan materialisme
metafisik.
1) Filsafat Materialisme Dialektika
Materialisme
dialektika adalah materialisme yang memandang segala sesuatu selalu berkembang
sesuai dengan hukum-hukum dialektika: hukum saling hubungan dan perkembangan gejala-gejala
yang berlaku secara objektif di dalam dunia semesta. Pikiran-pikiran
materialisme dialektika inipun dapat kita jumpai dalam kehidupan misalnya,
“bumi berputar terus, ada siang ada malam”, “habis gelap timbullah terang”,
“patah tumbuh hilang berganti” dsb. Semua pikiran ini menunjukkan bahwa dunia
dan kehidupan kita senantiasa berkembang.
2) Filsafat Materialisme Metafisik
Materialisme
metafisik, yang memandang dunia secara sepotong-sepotong atau dikotak-kotak,
tidak menyeluruh dan statis. Pikiran-pikiran materialisme metafisik ini
misalnya: “sekali maling tetap maling”, memandang orang sudah ditakdirkan,
tidak bisa berubah.
Cabang
materialisme yang banyak diperhatikan orang dewasa ini, dijadikan sebagai
landasan berpikir adalah “Positivisme”. Menurut positivisme, kalau sesuatu itu
memang ada, maka adanya itu adalah jumlahnya. Aguste Comte (Runes, 1963:234)
sebagai pelopor positivisme membatasi pengetahuan pada bidang gejala-gejala
(fenomena). Menurut Comte, terdapat tiga perkembangan berpikir yang dialami
manusia, yaitu:
1) Tingkatkan teologis (pola berpikir
manusia dikuasai oleh tahayul dan prasangka)
2) Tingkatkan metafisik (pola berpikir
abstrak)
3) Tingkatkan positif (pola berpikir
yang mendasarkan pada sains)
Zaman positif (Harun Hadiwijono,
1980) adalah zaman dimana orang tahu, bahwa tiada gunanya untuk berusaha
mencapai pengetahuan yang mutlak, baik pengenalan teologi maupun metafisik. Ia
tidak lagi melacak awal dan tujuan akhir dari seluruh alam semesta tapi
berusaha menemukan hukum-hukum kesamaan dan aturan yang terdapat pada
fakta-fakta yang telah dikenal atau disajikan kepadanya.
Jadi, dikatakan positivisme, Karena
mereka beranggapan bahwa yang dapat kita pelajari hanyalah berdasarkan
fakta-fakta, berdasarkan data-data yang nyata, yaitu yang mereka namakan
positif.
Thomas Hobbes sebagai pengikut
empirisme materialistis berpendapat bahwa pengalaman merupakan awal dari segala
pengetahuan, juga awal pengetahuan tentang asas-asas yang diperoleh dan
dikukuhkan oleh pengalaman. Hanya pengalamanlah yang memberi kepastian.
Pengetahuan melalui akal hanya memiliki fungsi mekanis semata, sebab pengenalan
dengan akal mewujudkan suatu proses penjumlahan dan pengurangan (Harun
Hadiwijono, 1980).
5.
Filsafat Pendidikan
Materialisme
Materialisme maupun positivisme pada dasarnya tidak menyusun
konsep pendidikan secara eksplisit. Bahkan menurut Henderson (1959),
materialism belum pernah menjadi penting dalam menentukan sumber teori
pendidikan.
Menurut Waini Rasyidin (1992), filsafat positivisme sebagai
cabang dari materialisme lebih cenderung menganalisis hubungan
faktor-faktor yang mempengaruhi upaya
dan hasil pendidikan secara faktual. Memilih
aliran positivisme berarti menolak filsafat pendidikan dan mengutamakan sains
pendidikan.
Menurut Behaviorisme, apa yang disebut dengan kegiatan
mental kenyataannya tergantung pada kegiatan fisik, yang merupakan berbagai
kombinasi dan materi dalam gerak. Gerakan fisik yang terjadi dalam otak, kita
sebut berpikir, dihasilkan oleh
peristiwa lain dalam dunia materi, baik materi yang berada dalam tubuh manusia
maupun materi yang berada di luar tubuh manusia. Behaviorisme yang berakar pada
positivisme dan materialisme telah populer dalam menyusun teori pendidikan,
terutama dalam teori belajar, yaitu apa yang disebut dengan “conditioning
theory”, yang dikembangkan oleh E.L.Thomdike dan B.F.Skinmer.
Menurut behavorisme, perilaku manusia adalah hasil
pembentukan melalui kondisi lingkungan (seperti contoh anak dan kucing diatas).
Yang dimaksud dengan perilaku adalah hal-hal yang berubah dapat diamati, dan
dapat diukur (materialisme dan positivisme).
6.
Implikasi Aliran
Filsafat Materialisme untuk Pendidikan
Menurut Power (1982), implikasi aliran filsafat pendidikan
materialisme, sebagai berikut:
a. Temanya yaitu manusia yang baik dan
efisien dihasilkan dengan proses pendidikan terkontrol secara ilmiah dan
seksama.
b. Tujuan pendidikan merupakan
perubahan perilaku, mempersiapkan manusia sesuai dengan kapasitasnya, untuk
tanggung jawab hidup sosial dan pribadi yang kompleks.
c. Isi kurikulum pendidikan yang
mencakup pengetahuan yang dapat dipercaya (handal), dan diorganisasi, selalu
berhubungan dengan sasaran perilaku.
d. Metode, semua pelajaran dihasilkan
dengan kondisionisasi (SR conditioning), operant condisioning,
reinforcement, pelajaran berprogram dan kompetisi.
e. Kedudukan siswa tidak ada kebebasan,
perilaku ditentukan oleh kekuatan dari luar, pelajaran sudah dirancang, siswa
dipersiapkan untuk hidup, mereka dituntut untuk belajar.
f. Guru memiliki kekuasaan untuk
merancang dan mengontrol proses pendidikan, guru dapat mengukur kualitas dan
karakter hasil belajar siswa
REFERENCES
Kuliah
–learning.blogspot.co.id/2013/11/filsafat-idealisme-pendidikan.html
Edearduslebe.blogspot.co.id/2015/11/filsafat-pendidikan-idealisme-html
Senjaplb.blogspot.co.id/2013/10/filsafat-pendidikan-materialisme
http://www.academic.edu/5549231/filsafat-pendidikan-materialisme
Tidak ada komentar:
Posting Komentar